Dua puluh tiga matahari

bangkit dari pundakmu.

Tubuhmy menguapkan bau tanah

dan menyalalah sukmaku.

Langit bagai kain tetoron yang biru

terpentang

berkilat dan berkilauan

menantang jendela kalbu yang berdukacita.

Rohku dan rohmu

bagaikan proton dan electron

bergolak

bergolak

di bawah dua puluh tiga matahari.

Dua puluh tiga matahari

membakar dukacitaku.

 

W.S. Rendra dalam kumpulan sajak “Blues untuk Bonnie”